• Breaking News

    Snowdrops


    Snowdrops

    By: Qawarier

    Tik.. tok... tik... tok... tik.. tok.. hanya detik jam dinding yang mau bersuara. Satu jam, dua jam, tiga jam berikutnya tak banyak yang berubah. Hanya aku yang sesekali merubah posisi duduk diatas ranjang. Aku tak bisa melepaskan pandangan pada setangkai bunga kering berbalut kotak kaca tipis dengan ukiran huruf timbul dipojok kanan bawah yang bertuliskan with love, Ame. Bunga itu telah berubah warna, menjadi gelap, seakan putihnya ikut pergi bersama sang pemberi, tangkai segarnya mengkerut, kering kerontang seperti jiwaku yang semakin mengering semenjak kepergian si pemberi. Seketika jiwaku melayang, kembali ke peristiwa 8 tahun silam. Ke tempat dimana pertama kali aku bertemu dengannya, dengan Ame. Lelaki bertubuh tinggi kurus dengan kulit coklat menawan dan rambut ikal hitam legam yang mengembalikan semangatku lewat setangkai bunga snowdrops yang ia bawa sebagai kado perkenalan kami yang ke 90 hari.

    “Selamat pagi Yuki.” Sapa Ame dari balik daun pintu yang baru saja ku buka.

    Aku terperangah, melihat Ame yang tak kunjung menyerah mendekatiku sejak dua puluh hari yang lalu. Ia gigih, seberapapun aku menolak kehadirannya dengan sikapku yang tak bersahabat ia tetap datang, lagi dan lagi. Berusaha memudarkan awan duka yang bergelung-gelung dihatiku sejak aku kehilangan kedua orang tuaku beberapa jam sebelum aku mengenal Ame. Ame adalah penghuni kamar rawat nomor 209, tetangga kamar rawat Ibu dan Ayah saat Ibu menghuni kamar rawat 208 dan Ayah menghuni kamar 210 karena kecelakaan mobil. Mereka hanya bisa bertahan dua bulan saja. Ibu pergi lebih dulu karena cedera otak yang dialaminya sedangkan Ayah menyusul dua jam kemudian setelah koma selama dua bulan. Selama dua bulan itu aku sering melihatnya berseliweran dengan pakaian biru muda khas pasien dan insfus yang selalu bertengger di tangan kanannya. Ia nampak selalu bersemangat. Semburat senyum selalu terlukis diwajahnya yang pucat. Bahkan beberapa kali ia sempat menawarkan tissue ketika aku terisak dalam duduk menunggu kabar baik Ibu dan Ayah dari dokter. 
    Aku masih ingat betul ketika itu setelah upacara pemakaman, air langit tumpah ruah menghujam setiap mili tubuhku, menyamarkan air mata yang semakin deras. Aku terduduk diantara dua gundukan tanah merah. Tubuhku mematung, tak bisa bergerak. Rasanya ada pusaran gravitasi yang kuat disini. Mataku terpicing menyadari sesosok pria mendekatiku. Familiar, tapi mataku remang menatapnya. Sebelum tubuhnya tepat berdiri disampingku, kesadaranku menurun. Lima detik kemudian tubuhku terasa melayang, ringan. Sekitarku gelap. Aku kehilangan kesadaran.

    Jam-jam berikutnya ketika mataku perlahan membuka, semburat cahaya jingga nan lembut menerobos celah mozaik-mozaik dinding, menyentuh lembut setengah wajahku, mengundang keinginan untuk bangkit dari posisi terlentang. Aku mengedarkan pandangan, menggenapkan seluruh kesadaran. Ini bukan tempat pemakaman, ini kamar seseorang.

    “Kau sudah bangun nona.” suara berat itu membuatku terperanjat. Refleks menoleh.
    “Ame.” pria itu menjulurkan tangan, isyarat berkenalan tapi mulutku masih enggan mengeluarkan suara sedikitpun..

    “Aku sering melihatmu duduk berjam-jam di lorong rumah sakit. Aku tahu kau baru saja kehilangan keluargamu. Jadi boleh ku tau namamu ?” hening sejenak, ia menunggu jawabanku tapi aku masih enggan membunyikan pita suaraku. “Baiklah tak usah dipaksakan, nama tak terlalu penting bagiku. Toh besok-besok aku pasti tahu namamu,” lanjutnya dengan nada bersahabat. Percakapan sore itu berlangsung satu arah. Ame terus bicara, bertanya ini, bertanya itu, sesekali kujawab dengan anggukan, sesekali dengan gelengan, sesekali kujawab satu dua kata seperlunya. Hari itu berakhir dengan kepulanganku ke rumah diantar oleh supir Ame berbekal petunjuk yang ku tulis pada secarik kertas coklat muda yang ku temukan diatas meja belajar yang terletak disebrang ranjang.

    Esoknya Ame selalu menemuiku, setiap hari. Menyapa dengan nada bersahabat, meski jarang ku ladeni. Entah dari siapa dia tahu namaku, aku tak peduli. Terkadang dia menemuiku di halaman sekedar say hallo terkadang di kelokan jalan tak jauh dari rumah, terkadang di taman komplek, dan lebih sering di perpustakaan komplek yang hanya berjarak 30 meter dari rumah. Tapi seberapa seringpun ia mengunjungiku, ia tak pernah berhasil membuat perubahan dalam diriku. Aku tetap menjadi Yuki yang tertutup, pendiam dan murung. Rasa kehilangan itu terlalu kuat mengakar dihatiku, membuatku remuk redam.  Hingga pada hari perkenalan kami yang ke-90 aku mulai menerimanya sebagai kawanku. Tidak, lebih tepatnya sebagai kawan hidupku.

    Ingatan itu seperti fragmen-fragmen video yang sedang berputar di kepalaku. Setiap detiknya, setiap gerak-geriknya, bahkan setiap huruf yang ia ucapkan masih terekam jelas dalam memoriku.

    “Hai, Yuki. Ini sapaanku yang ke 90,” sapa Ame.

    “Ya. Aku tau,” jawabku dengan nada datar.

    Ia melangkah, merapatkan badannya ke kursi taman disebelahku. Hari itu langit bersih dari gumpalan awan, biru. Matahari bersinar terang namun udara sekitar yang masih terasa sejuk membuatku betah duduk berlama-lama  di kursi taman berwarna coklat dengan pernis yang masih mengkilat itu.

    “Kau tau ini bunga apa?” tanya Ame sambil mengacungkan setangkai bunga dengan kelopak putih, tangkai yang berwarna hijau zamrud dan tambahan daun-daun berbentuk menyirip yang menempel selang-seling ditangkainya. Hasil karya Tuhan yang menyejukkan mata.

    “Apa?” kini kepalaku sempurna menoleh ke arah bunga yang teracung.

    “Snowdrops,” ia menghela nafas. “Bunga pengharapan,” lanjutnya.

    “Bunga pengharapan?” keningku mengernyit, berusaha menerka maksud kalimatnya barusan.
    “Iya. Kau tau. Di daerah-daerah Eropa barat bunga ini justru tumbuh saat musim salju tiba. 
    Muncul dari tumpukkan salju yang dingin saat tak satupun bunga lain mekar. Itu sebabnya bunga ini dinamakan bunga harapan.”

    “Jadi ?”

    “Jadilah snowdrops untukku. Atau jika tak mau, jadilah snowdrop untuk ibu dan ayahmu.”

    Aku terperangah, sontak membuatku melarikna pandangan ke dalam matanya. Lama aku tak bersuara. Memandang matanya dalam. Matanya sendu, lensanya berwarna coklat terang, menentramkan. Itulah kali pertama aku menemukan sesuatu dimatanya. Ketulusan. Dia tulus ingin membuatku tangguh ditengah badai yang belum lama ini menggoncang jiwaku. Itulah kali pertama aku menerimanya. Tanpa sadar saat itu kupercayakan separuh jiwaku padanya.

    “Ambil!” ucapnya parau.

    Perlahan ku gerakkan tanganku, beralih memegang tangkainya erat.

                “Simpanlah sampai Tuhan mengambilnya kembali.” Ucapnya lagi dengan senyum terbaik.
                Entah apa maksud ucapannya. Aku menyesal tak menanyakannya hari itu.

                “Yukiii...”

                Suara yang amat ku kenal terdengar setengah berteriak, membuyarkan fragmen-fragmen video kenangan yang sedang berputar dalam memoriku. Aku tetap dalam posisiku, tak bergerak satu centi pun. Itu Kara. Saudara kandung Ame. Matanya mirip dengan mata milik Ame, sendu, coklat dan menentramkan. Kali ini matanya terlihat sembab. Aku tahu Kara masih merasa kehilangan tapi ia seperti snowdrop, tetap mekar ditengah salju.

                Matanya menangkap keberadaanku setelah beberapa saat menelisik seluruh ruangan. Tubuhnya bergerak mendekat kemudian duduk beberapa centi dariku. Tangannya bergerak mengelus rambutku seakan menabahkan.

                “Hiduplah seperti saat Ame masih disini,” ucapnya parau.

                Aku menoleh, melihat raut wajahnya yang tersenyum menguatkan. Garis wajahnya masih menampakkan beban yang begitu berat. Tapi berusaha tersenyum untuk menyembunyikan beban berat yang ia tanggung karena kehilangan Ame 22 jam yang lalu.

                Ya, Ame telah pergi mewakilkan raganya pada setangkai snowdrops kering yang sedari tadi tak lepas dari genggamanku. Neuron-neuron sensoriku masih menangkap kejadian sebulan lalu saat aku kehilangan snowdrops pemberian Ame delapan tahun lalu. Saat itu akhir januari. Ame pernah bilang bahwa akhir Januari sampai awal Februari merupakan waktu mekarnya snowdrop di negara-negara Eropa barat.

    Ku telisik setiap sudut, setiap celah bahkan setiap lubang yang ada di rumahku berharap aku lupa menyimpannya dan kembali menemukannya. Namun sia-sia, bunga itu tak ada dirumah bahkan setelah delapan jam lamanya aku menelisik setiap centi rumahku, aku tak kunjung menemukannya. Aku masih ingat betul, bagaimana rasanya panik seharian. Tapi semua itu berakhir setelah mataku menangkap sosok pria yang amat kukenal yang menjadi sosok amat penting delapan tahun terakhir ini.

                Ame baru saja tiba beberapa detik yang lalu. Seluruh tubuhnya basah kuyup. Bibirnya terlihat biru, menggigil. Di luar hujan deras. Ia membawa sebuah paper bag berwarna baby blue dengan corak batik timbul berwarna senada yang nampak basah sisi kirinya.

                “Maaf aku meminjam bungamu sebentar,” ucapnya dengan nafas tersengal menahan gigi yang bergemeretak karena tubuhnya menggigil.

                “Arghh!!” aku menggerung kesal dengan apa yang Ame lakukan.

                “Hey kau tetap cantik bahkan dengan wajah asam itu Yuki,” godanya sambil mencondongkan tubuhnya ke arahku.

                “Kau!”

                Lagi-lagi aku tak jadi marah. Ame selalu membuatku tertawa.

                Tak lama ia pamit pulang. Ia menolak saat aku menawarinya teh hangat sekedar menghangatkan tubuhnya yang menggigil. Ia memilih untuk pulang dengan bajunya yang masih kuyup. Tanganku gesit melingkarkan syal rajut berwarna cream dilehernya. Semoga itu bisa membantu tubuhnya tetap hangat. Persis setelah ia berada digaris pintu ku berikan sebuah payung transparan untuk melindungi tubuhnya dari air hujan yang turun. Ku pandang Ame lamat-lamat. Gerakannya tak biasa, langkahnya sedikit gontai membuatku diliputi kecemasan. Setelah beberapa menit tubuhnya menghilang dibalik kelokan jalan.

                Malamnya aku membuka paper bag yang dibawakan Ame. Mataku menangkap sebuah kotak persegi panjang dengan balutan kertas kado berwarna putih dengan ornamen pita baby blue mengkilat di pojok kanan atasnya. Ada selembar kertas kertas berukuran 5x5 cm terlipat dua yang menyertai kotak itu. Ia tak pernah absen menyertakan kartu-kartu ucapan setiap minggu. Meninggalkannya sembarang, kadang dibawah pintu, diatas kulkas, di dapur, menyelipkannya di buku-buku atau rak-rak. Kadang isinya romantis kadang membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Dan kali ini mataku mendapati goresan-goresan tangannya yang membawa nuansa lembut.

                Maaf aku mengganti bungamu dengan yang baru.
    Aku ingin kamu selalu mempunyai semangat baru untuk
    menjalani hari-harimu Yuki.
    Tetaplah jadi snowdropku ada atau tidaknya diriku.
    Aku sangat mencintaimu.

                            Ame

                Pipiku terasa hangat. Satu, dua, tetes air mataku mengalir. Entah kenapa aku hanya ingin menangis. Perlahan ku buka kertas yang membalut kotak persegi panjang. Kaca. Itu kotak kaca tipis dengan setangkai snowdrop segar didalamnya. Kelopaknya masih segar, berwarna putih bersih dengan tangkai berwarna hijau zamrud dan dua helai daun menyirip yang terlihat segar. Terdapat tulisan cetak timbul bertuliskan With Love, Ame. Itu kotak kaca tercantik yang pernah ku lihat. Aku menyukainya seperti aku menyukai pemberinya.

                Esoknya pagi-pagi sekali Ame datang dengan senyum yang hangat. Ia terlihat tampan dengan sweater abu-abu muda dan jeans yang pas ditubuhnya yang tinggi kurus. Rambut hitamnya nampak rapih dengan potongan mowhak yang dipomade. Hari itu dia memintaku menghabiskan hari dengannya. Seperti biasa Ame selalu antusias saat aku memilih perpustakaan kota sebagai tujuan pertama kami menghabiskan hari, begitupun dengan hari ini. Ia selalu suka berjam-jam duduk diperpustakaan, membaca novel-novel favoritnya. Novel karya J.K. Rowlling, Leo Tolstoy,Tere Liye atau Haruki Murakami. Berikutnya Ame memilih Food Festival yang terletak dua kilometer dari perpustakaan kota. Ame memilih tenda makanan seafood yang terletak di ujung area Food Festival. Itu sebenarnya pemandangan tak biasa karena biasanya ia selalu menolak makan seafood. Tapi ku putuskan untuk tak memprotesnya hari ini.

                “Aku mencintaimu,” bisiknya lembut.

                “Iya aku tahu. Aku juga mencintaimu Ame,” aku membalas bisikannya setengah berteriak. Ia tertawa, meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Tawa itu, aku menyesal tak mengabadikannya. Itu tawa terakhir yang ku lihat dari wajah Ame.

                Hari itu berakhir menyenangkan, meski banyak hal tak biasa yang dilakukan Ame hari ini aku memutuskan untuk tak memprotesnya. Beberapa jam setelah Ame pulang handphoneku berdengking. Panggilan masuk dari Ame. Tanpa pikir panjang langsung kusambar handphoneku dengan riang. Tapi suara diseberang sana bukan suara Ame. Itu suara perempuan yang terisak. Air mukaku berubah seketika. Jantungku berdegup tak beraturan. Kepalaku segera dipenuhi berbagai pertanyaan. Suara itu menyuruhku datang ke rumah Ame. Sejurus kemudian aku sudah melesat dijalanan.

    Dua puluh menit kemudian mataku sudah menangkap sosok lelakiku sedang terkulai lemas di sofa ruang tengah rumahnya. Wajahnya pucat, bibirnya membiru. Kali ini bukan karena kedinginan tapi karena penyakitnya yang kembali mengamuk setelah beberapa tahun belakangan tidur nyenyak didalam tubuhnya. Disampingnya duduk gadis berumur sekitar dua puluh tahunan mengenakan baju tidur tosca dengan motif volkadot. Belum sempat aku berpikir sesuatu tentang gadis itu, wajah moleknya menoleh. Hidung, mata dan dagunya mirip Ame. Ternyata sosok molek itu adalah Kara saudara kandung Ame.

    Sejurus kemudian tubuh lemah Ame telah terbaring di ruang rawat. Kondisinya kritis. Kara bilang Ame butuh transplantasi tulang sum-sum segera. Ia bilang Ame terkena Anemia Aplastis. Gagal berfungsinya sum-sum tulang yang kronis dan persisten yang mengakibatkan anemia, neutropenia dan thrombositopenia. Ternyata Ame rutin melakukan transfusi darah jika ia sedang bosan meminum obat-obat penstimulasi sumsum tulang atau obat-obat immunosupresif. Kabar itu seperti guntur yang menyambar di siang bolong. Tubuhku runtuh mendengar penuturan Kara. Serasa otot-ototku melemas, tak ada kekuatan sama sekali.

    Entah Aku harus berkata beruntung atau sial saat empat minggu kemudian Aku mendapat kabar bahwa Ame telah mendapatkan donor tulang sumsum yang siap ditransplantasi. Satu jam sebelum Ame memasuki ruang operasi ia menggengam erat tanganku dengan sisa kekuatan yang ia miliki. Wajahnya sayu, pipinya terlihat lebih tirus. Tangannya tampak lebih kecil dari sebulan lalu. Kami tenggelam dalam obrolan tanpa kata yang diramaikan rindu. Satu jam kemudian tubuhnya sudah hilang dibalik pintu kamar operasi. Satu jam pertama operasi berjalan lancar tapi setelah itu Dewi Fortuna tak lagi memihaknya. Kondisinya menurun drastis. Di menit-menit terakhir setelah dilakukan upaya penyelamatan akhirnya dokter-dokter itu mengibarkan bendera putih. Operasi tidak berjalan mulus. Malaikat maut mengambil alih semuanya. Tak hanya sukma Ame yang direnggut namun juga kenangan, kekuatan dan cintaku. Rasanya separuh sukmaku tak lagi ditempatnya. Hatiku perih. Bulir-bulir bening mengucur dari sudut mataku, menguarkan kepedihan yang amat sangat. Lagi-lagi Aku kehilangan semangatku untuk melanjutkan hidup. Rasanya bernafaspun percuma. Tapi Kara lebih tegar dariku. Sudut matanya sama basah tapi ia nampak tegar dengan kepergian kakaknya. Satu bulan menemani Ame di rumah sakit membuatku akrab dengan Kara.

    “Yuki?” tangan Kara menggoyahkan tubuhku yang lemas. Aku menoleh, masih tak bersuara melempar pandangan pada wajahnya yang nampak kuyu.

    “Ayo kau harus melihat wajah kakak untuk yang terakhir!” lanjutnya sambil mengalungkan lengannya dibahuku.

    Hatiku meradang mendengar kata-kata Kara. Rasanya luka kehilangan yang dulu hampir kering sekarang kembali menganga. Satu, dua butir bening hangat meluncur dipipiku, mendarat mulus ditepian kotak kaca yang sedari tadi ku genggam. Hatiku mengatakan ini saatnya mengembalikan Snowdrop ini bersama pemberinya kepada pemilik-Nya, tapi hatiku yang lain bersitegang menentangnya membiarkan bunga itu tetap disini menggantikan si pemberi.

    Aku mulai melangkah menuju pembaringan Ame. Dia terlihat begitu damai. Wajahnya pucat tapi menyenangkan. Tak terlihat garis-garis kesedihan di wajahnya. Entah mengapa tiba-tiba dadaku yang sedari tadi terasa sesak melepas kepergian Ame sekarang rasanya jauh berbeda. Tanganku dengan ringan mengembalikan kotak kaca yang sedari tadi ku genggam. Seluruh kesadaranku terkumpul. Seperti ada malaikat yang memeluk hatiku hingga rasanya tak terasa sakit lagi. Lega rasanya setelah kotak itu ku kembalikan kepada si pemberi. Seperti dibisiki malaikat, aku mengerti surat terakhir Ame. Ia telah memberiku seluruh semangatnya untuk menjadi bunga harapannya. Karena aku mengerti sekarang, ada atau tidaknya raganya disisiku ia tetap hidup didalam hatiku.



    Dari:
    Temannya
    Nur'ajijah (1171040112)

    Tidak ada komentar

    Post Bottom Ad

    ad728